5 Alasan Klasik Orangtua yang Kerap Jadi Dalih untuk Memanjakan Anak

5 Alasan Klasik Orangtua yang Kerap Jadi Dalih untuk Memanjakan Anak

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa semua orangtua pasti menyayangi anak-anaknya. Hingga pada satu titik di mana para orang tua ini tanpa sadar mereka jadi merasa ingin selalu bisa memberi apa pun untuk anaknya ini. Mulai dari semua kebutuhan pokok sang anak sampai dengan memfasilitasi setiap keinginan sang anak. Dan untuk memenuhi semua hal ini pastilah akan di upayakan segala macam atau berbagai macam cara oleh para orangtua. Sayangnya, hal semacam ini justru mengarah pada sikap yang cenderung memanjakan sang anak.

Berbagai macam alasan akan di sahkan oleh para orangtua untuk menjadi dasar pembenaran dari sikap yang mereka perbuat tersebut. Oleh karena itu, di lansir dari laman theiotrevolution.com, berikut telah di rangkum beberapa alasan yang cukup khas dan sering di pakai oleh para orangtua sebagai ‘dalih’ untuk memanjakan sang anak.

1. Menganggap anak sebagai harta yang berharga hingga rela memberikan apa saja

Di kutip dari laman Login IDNPlay, seperti yang sudah kita ketahui bahwa setiap orangtua pasti akan berpikir bahwa anak-anak mereka adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Meski benar adanya, tapi imbas dari hal ini gak jarang akan berujung pada sikap memanjakan. Saking di anggap terlalu berharga, para orangtua jadi rela memberikan apa pun yang di inginkan anak-anak.

Faktanya, gak semua anak membutuhkan berbagai kemanjaan berupa barang dan fasilitas mahal yang mewah. Di sini orangtua di tuntut untuk lebih selektif dalam memenuhi kebutuhan anak, antara primer dan tersier, demi menghindari munculnya dampak negatif tumbuh kembang si anak.

2. Jangan sampai anak menjalani masa kecil seperti mereka dulu

Hampir sebagian besar orangtua berpikir kalau masa kecilnya yang kurang bahagia tidak boleh sampai di alami oleh anak-anak mereka. Ketika terbayang kenangan masa lalu saat tidak bisa mendapatkan mainan kesukaan, para orangtua ini lantas berjanji pada dirinya sendiri bahwa si anak akan selalu mendapatkan apa pun yang di inginkan.

Pemahaman ini, meski bisa di maklumi, tapi sebenarnya kurang tepat. Boleh saja memberikan keinginan anak, tapi bukan semua hal dan tanpa usaha lebih dulu. Boleh saja memberi apa yang di inginkan, tapi harus sesuai dengan kebutuhan yang akan mendukung tumbuh kembang anak secara lebih positif.

3. Merasa mampu memberi apa pun, termasuk fasilitas dengan harga fantastis

Hal semacam ini biasanya muncul pada orangtua yang memiliki kemampuan finansial menengah hingga menengah keatas. Mereka merasa mampu secara materi untuk memenuhi kebutuhan anak dengan berbagai fasilitas dan barang-barang yang terkadang anak bahkan belum paham kegunaannya.

Gak jarang juga karena merasa berkecukupan, mereka berpikir bahwa tindakan tersebut adalah hal yang wajar. Hingga akhirnya orangtua belum merasa harus memperbaiki kebiasaan mereka tersebut. Sampai pada akhirnya anak jadi terbiasa di manjakan tanpa paham makna bekerja keras lebih dahulu.

4. Merasa tidak tega saat anak mengiba

Dalam kasus lain, cikal bakal kebiasaan memanjakan anak justru bisa tidak di sadari oleh si orangtua itu sendiri. Mereka hanya merasa harus selalu memenuhi permintaan anak dan akan berusaha mengupayakannya. Bahkan ada juga orangtua yang sampai merasa tidak tega untuk menolak permintaan anak mereka.

Alhasil, anak jadi terbiasa mendapatkan keinginan mereka dan berisiko jadi pribadi egois di masa depan. Terkadang sikap tidak tega dari orangtua ini juga bisa di jadikan ‘senjata’ oleh anak agar terus dapat di penuhi keinginannya. Bahaya banget, nih.

5. Wujud rasa bersalah karena harus meninggalkan anak untuk bekerja

Rasa bersalah yang muncul memang sangat wajar di alami oleh orangtua pekerja. Kesibukan pekerjaan yang sudah menyita waktu akhirnya membuat orangtua berpikir untuk menebus kesalahan mereka. Alih-alih menciptakan kebersamaan di akhir pekan, gak jarang para orangtua memilih membelanjakan uang mereka untuk mewujudkan keinginan anak-anak.

Padahal, menebus lewat quality time tanpa fasilitas mewah pun sebenarnya sudah mampu memenuhi harapan anak. Sebab bagi anak, tidak ada barang mahal di dunia ini yang mampu menggantikan kebersamaan dengan orangtua mereka.

Pada dasarnya, level memanjakan sendiri bisa berbeda-beda di antara para orangtua. Namun, kunci dari ambang batasnya terletak pada pemenuhan kebutuhan utama anak secara wajar. Lebih dari itu, memanjakan sebesar apa pun tetap tidak sebanding dengan perhatian yang mampu membentuk kedekatan secara emosional.

Tagged : / / /